atau

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SUKU YALI

 *) Oleh : James S Yohame
Secara administratif suku Yali termasuk pada Kabupaten Yahukimo bersama beberapapa suku lainnya (Hubla, kimyal, momuna). Suku Yali menempati bagian timur pegunungan tengah Papua. Kabupaten Yahukimo merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Jayawijaya. Nama Yahukimo sendiri diambil dari empat suku besar yang bermukim di Yahukimo, yaitu : Yali, Hubla, Kimyal, dan Momuna yang membentuk nama Yahukimo. Suku - suku lainnya yang terdapat di kabupaten Yahukimo adalah Una Ukam, Mek, Ngalik, Tokuni, Obini, Korowai, Duwe, Obukain, Kopkaka dan Bese.
Batas daerah Kabupaten Yahukimo, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten induk Jayawijaya dan Kabupaten Tolikara, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Asmat dan Mappi.
Seperti umumnya kebanyakan masyarakat pegunungan tengah Papua, suku Yali memiliki mata pencaharian sebagai petani tradisional (bercocok tanam) betatas (Suburu), keladi (Hom), dan berburu. Makanan pokok adalah Suburu (Betatas, keladi, buah merah, kelapa hutan, dan makanan musiman lainnya.
Masyarakat suku Yali sangat menyukai perhiasan seperti kerang - kerangan, bulu burung, taring babi dan perhiasan lain. Cara mengenakan koteka pun lain dengan suku pegunungan tengah yang lain pada umumnya. Masyarakat Suku Yali mengenakan koteka yang ukuranya panjang, dan saat dikenakan kotekanya agak horisontal dan lurus ke depan kemudian menutupi bagian dada dengan lilitan tali rotan.
Sebelum injil masuk, masyarakat suku yali menganut kepercayaan Animisme seperti masyarakat Papua pada umumnya. Namun, setelah injil masuk agama masyarakat suku Yali 99% Kristen Protestan.
Dalam pernikahan, masyarakat suku Yali menggunakan wam (babi) sebagai maskawin. Namun sangat di sayangkan, budaya ini lambat laun mengalami pergeseran. (Pembahasan mengenai perkawinan bisa lihat tulisan saya yang lain yang berjudul perkawinan adat suku Yalimek di : http://yalimeck.tk/).
Kesenian pada masyarakat Yali adalah Yunggul (Dansa) dengan cara 'lari kecil' sambil berkeliling. Senjata masyarakat suku Yali adalah Busur dan panah.
Sistem pengetahuan dalam masyarakat Yali mereka mengenal obat - obatan tradisional seperti Yabi yaitu sejenis daun gatal yang digunakan untuk obat sakit badan dan penyakit lainnya.

NB : Pembahasan mengenai suku Yali sesuai dengan teori C Kluckhohn akan di bahas lebih lanjut. Sangat diharapkan saran, dan masukkan untuk dijadikan bahan referensi dalam penulisan ini.

***Nori Wa***

*) Penulis adalah Penghuni Jalur Bebas Hambatan.


Yali Tribe Dancing
Hom/ Keladi
Masyarakat Kosarek Yunggul

Yali Tribe Teatrical

KEKRISTENAN DAN KEBUDAYAAN (Dalam Perspektif Masyarakat)

 *) James S Yohame

Berikut saya post-kan artikel dari Ev. Magdalena Pranata yang berjudul Kekristenan dan Kebudayaan. Artikel ini mencoba untuk meninjau hubungan antara Injil dan Kebudayaan, Kristus dan Kebudayaan, serta Orang Kristen dan Kebudayaan.

PEMULIHAN KEBUDAYAAN

Mungkin penting bagi kita orang kristen untuk mendapat gambaran tentang konteks kebudayaan yang mau tidak mau akan mempengaruhi kesaksian kristiani kita. Semoga artikel ini dapat membantu kita untuk paling tidak, mengarah ke tujuan tersebut.

Kebudayaan adalah prestasi atau hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam alam ini. Kemampuan untuk berprestasi/berkarya ini merupakan sikap hakiki yang hanya ada pada manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu sejal penciptaan, manusia telah diberi amanat kebudayaan (Kej 1:26-30).

Namun kejatuhan manusia dalam dosa telah menyebabkan manusia hanya mampu menghasilkan kebudayaan yang menyimpang dari rencana Allah dan hanya demi kemuliaan diri manusia sendiri (dari God-centered menjadi man-centered).

Manusia lalu berusaha untuk mengisi keadaan kosong dalam hatinya dengan kebudayaan (agama, ilmu dan teknologi, seks, hiburan, harta, kesalehan, kedudukan tinggi, dll.) Namun kebudayaan manusia tidak akanpernah dapat memulihkan keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Pemulihan keadaan manusia dan kebudayaannya terjadi ketika Anak Allah yang Tunggal turun ke dalam dunia untuk menebus dosa manusia.

BEBERAPA CONTOH KEBUDAYAAN DUNIAWI


Ada 2 macam kebudayaan duniawi:
a. Yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
b. Yang berkaitan dengan kehidupan beragama

a. Kebudayaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

1. Teknologi
Dampak negatif dari kebudayaan teknologi adalah:
- manusia semakin kebal dan tidak peka terhadap kesadaran/ rasa ketergantungan terhadap Allah
- manusia semakin terpisah dalam hubungan Allah dan sesamanya

2. Materialistis
Kebudayaan telah membawa manusia kepada kemajuan dan hasrat untuk semakin menikmati hidup secara lahiriah. Manusia menjadi kapitalis, egois, dan sinis terhadap masalah rohani. Manusia tidak segan untuk melakukan manipulasi untuk kepentingan dan dan kenikmatan diri. Pengharggan kepada uang, harta dan kekayaan lebih daripada menghargai dan menghormati martabat manusia.

b. Kebudayaan yang berkaitan dengan kehidupan beragama

1. Pandangan hidup
Keyakinan seorqang dalam agamanya pasti akan mempengaruhi pandangan hidupnya. Sikap, tujuan, dan sistem nilai dalam kehidupan seseorang senantiasa dipengaruhi pandangan hidupnya. Kenyataan in merupakan tantangan yang cukup berat dalam memberitakan Injil. Sebab hampit tidak mungkin manusia meningglkan pandangan hidup nya yang bertahun-tahun sudah dihayatinya (Koentjaraningrat: Manusia dan Kebudayaan di Indonesia). Karena itu kedatangan Injil dianggap sebagai ancaman serius dalam hidupnya. Kesulitan ini hanya dapat ditembus oleh kuasa Roh Kudus yang sanggup memulihkan pandangan hidup manusia sesuai dengan iman yang dianugerahkan ALlah dalam Yesus Kristus. Jika tidak demikian, akan selalu ada kecenderungan manusia untuk berpaham sinkretisme setiap ajaran.agama baru.

Dalam upaya mendekatkan Injil kepada manusia dan mempersiapkan atau menjembatani manusia untuk menerima pelayanan Injil yang dikerjakan oleh Roh Kudus, lahirlah : Kontekstualisasi dan Inkulturisasi (memakai kebudayaan untuk ber-PI).

2. Pola Hidup
Pola hidup manusia sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dimana dia hidup. Hal ini dilakukan secara turun-temurun sehingga lahirlah adat-istiadat. Pada umumnya adat-istiadat ini dijiwai dan berhubungan erat dengan agama yang dianut masyarakat. Keadaan ini juga merupakan hambatan yang cukup besar dalam
pelayanan Injil. Sebab sekali lagi Injill dianggap sebagai ancaman untuk mengubah pola hidup yang telah dimiliki selama ini. Adanya kecenderungan untuk memadukan adat dan Injil seharusnya diperhatikan dalam setiap pelayanan bagi mereka yang baru bertobat.

BEDA INJIL DAN KEBUDAYAAN

1. Injil, pertama-tama bukanlah hasil kebudayaan. Injil bukanlah karya manusia melainkan ALlah. Tetapi demi memulihkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, maka Injil harus 'inkarnasi' dalam kebudayaan manusia. Injil telah 'lahir' di tengah kebudayaan bangsa Yahudi walau hal ini tidak berarti bahwa Injil juga merupakan kebudayaan. Injil justru bersifat menyucikan kebudayaan manusia. Karena itu dalam pemberitaan Injil, harus memilah mana yang merupakan berita (supra-natural dan supra-kultural) dan mana yang merupakan 'pakaian kebudayaan' Injil. Dengan demikian Injil dapat diterima dalam semua kebudayaan yang ada di antara segenap uamt manusia di dalam dunia.

2. Kebudayaan merupakan upaya manusia untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bermoral, nikmat, puas, dan bahagia. Tetapi Injil menolong manusia menjadi manusia baru dalam Tuhan. Dengan demikian, Injil melampaui kebudayaan. Sebab oleh Injil, manusia memiliki kehidupan yang sesungguhnya, berharga, bersifat pasti, penuh pengharapan, dan memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan rencana ALlah. Oleh Injil Kristus manusia mendapatkan kehidupan yang kekal dan kekudusan yang sempurna (Kehidupan Zakheus, Matius,
Nikodemus, dll).

3. Kebudayaan memisahkan manusia dari sesamanya dan manusia dari Allahnya. Sebaliknya Injil mempersatukan kembali manusia dengan Allah dan sesamanya. (Ef 2:13-18).

4. Kebudayaan menjadikan manusia menghadapi sesamanya secara tidak manusiawi. Kecenderungan manusia menghargai sesamanya ditentukan oleh status sosialnya, pekerjaannya, relasi-interaksi yang terjadi
(manusia modul -- Aflin Tofler: The Future Shock). Sedangkan Injil memberikan penglihatan yang baru, sehingga setiap umat tebusan Kristus memandang sesamanya manusia sebagai manusia seutuhnya dan bukan manusia modul. Manusia menurut Injil adalah umat yang berharga dan dikasihi Allah. Untuk manusialah, Tuhan Yesus telah merelakan nyawaNya. Apapun status sosial dan jabatannya, oleh Injil kita memandang setiap manusia sebagai dia yang membutuhkan Injil keselamatan.

KEKRISTENAN DI TENGAH KEBUDAYAAN

Sangatlah menarik apabila kita menyimak kesaksian Alkitab perihal kehadiran kekristenan di tengah kebudayaan manusia. Di beberapa tempat seperti di:

* Antiokhia
Sebuah kota pusat perdagangan yang dihiasi dengan bangunan megah prestasi manusia modern dan keberadaan kuil-kuil untuk pemujaan dewa. Namun justru di sinilah untuk pertama kalinya pengikut Kristus disebut sebagai orang Kristen. Di antara 500.000 jiwa penduduk kota yang didiami umat kafir, sekelompok kecil umat Kristiani menunjukkan identitasnya sebagai manusia yang telah dibaharui oleh Kristus (Kis 11:26).

* Korintus
Sebuah kota yang juga pusat kegiatan perdagangan dan sekaligus kota pusat pemuasan hawa nafsu seks. Oleh kuasa Injil, dengan kehadiran Injil banyak orang percaya dan dikuduskan kehidupannya dalam Kristus Yesus. Kenyataan kebudayaan orang Korintus ini memang menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan iman jemaat.

* Athena
Kota pusat kaum terpelajar yang penuh dengan berhala. Tatkala Injil diberitakan, mendapat tantangan dari kaum intelektualnya. Namun kenyataan bahwa Injil melampaui akal budi manusia dibuktikan dengan lahirnya jemaat di Athena.

* Efesus
Kota yang terkenal dengan pemujaan kepada Dewi Artemis sehingga kehadiran Injil di sana merupakan ancaman besar bagi perkembangan kebudayaan yang dijiwai oleh agama mereka. (Kis 19, 25, 27). Berlawanan dengan Athena, Efesus menolak Injil dengan kekerasan namun hasil penginjilan di Efesus lebih besar.

Injil selalu berhadapan dengan kelompok yang bermoral rendah, yang mengejar kepuasan hawa nafsu/kenikmatan hidup, kaum intelektual, kelompok berbudaya yang dijiwai agama asali, dan fanatisme agama. Dalam pertemuan antara Injil dengan kebudayaan, maka Injil akan bersifat menempatkan kebudayaan sebagai pelayan untuk melengkapi manusia hidup memuliakan Allah. Melalui kebudayaan, manusia yang telah menerima Injil akan memancarkan hikmat Ilahi.

LIMA MACAM SIKAP GEREJA TERHADAP DUNIA DAN KEBUDAYAAN

1. Sikap Radikal : Kristus menentang kebudayaan

Sikap yang menekankan antara Krsitus dengan kebudayaan. Kristus dianggap berlawanan dengan masyarakat. Manusia harus memilih Kristus atau kebudayaan. Ia tidak dapat memilih keduanya, ia tidak
dapat mengabdi kepada dua tuan (1 Yoh 2:15, 16). Orang yang setia kepada Kristus harus menolak dunia. Sikap radikal ini disertai dengan empat masalah teologia.

a. Hubungan antara pengetahuan dan penyataan
Memuliakan penyataan/pewahyuan. Pengertian tentang Allah dan pemahaman tentang kewajiban manusia hanya dinyatakan oleh Alkitab dan gereja. Pengetahuan di luar Alkitab dan gereja dicela dan tidak diterima.

b. Pengertian tentang dosa
Dosa telah merajalela dalam kebudayaan karena itu manusia harus menjauhkan diri dari kebudayaan supaya dapat hidup kudus.

c. Hubungan antar kepatuhan kepada hukum dan karunia Allah.
Menenkankan kewajiban orang Kristen untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang mewujudkan kepatuhan penuh pada hukum Tuhan. Hal itu merupakan tanggapan terhadap kasih karunia yang telah dinyatakan Allah.

d. Kecenderungan membedakan dunia materi dan rohani
Materi dinilai senantiasa bersifat melawan Allah karena itu manusia harus mengutamakan hanya perkara rohani. Kecenderungan untuk lebih menekankan Roh Kristus dan pengertian rohani daripada Yesus yang sungguh hidup sebagai manusia sejati.

2. Sikap Akomodasi : Kristus milik kebudayaan

Melihat keselarasan antara Kristus dan kebudayaan. Kehidupan Yesus dan pengajaranNya dianggap sebagai prestasi manusia yang paling agung. Dalam Yesus cita-cita proses peradaban diwujudkan. KArenanya selain
mencintai Kristus, manusia juga mencintai kebudayaan. Penekanan utama mereka pengajaran dan keteladanan hidup Yesus. Ia lebih dilihat sebagai Pengajar Agung daripada sebagai Juruselamat dan Tuhan. Karena itu untuk menarik orang kepada Kristus, mereka menekankan persamaan antara Injil dan kebudayaan.

3. Sikap Perpaduan : Kristus di atas kebudayaan

Meyakini bahwa kebudayaan tidak sama sekali bersifat jahat dantidak sama sekalu bertentangan dengan Kristus. Menyetujui bahwa manusia dipanggil untuk mematuhi Allah dan menerima panggilan Allah untuk membangun masyarakatnya dan mengembangkan kebudayaannya. Karena itu manusia tidak harus memilih kebudayaan dan Kristus. Sekalipun Kristus berbeda dengan kebudayaan, Ia juga relevan dengan kebudayaan, terlebih Ia adalah Tuhan atas kebudayaan. Kebudayaan perlu dilihat dalam terang ilmu daniman, bersifat suci tetapi telah diwarnai dosa. Perpaduan antar unsur iman Kristen dan unsur kebudayaan adalah penting. Karena meyakini bahwa Injil melampaui kebudayaan, berarti tujuan hidup manusia tidak dapat dicapai hanya berdasarkan usaha manusia, dalam hal ini membutuhkan kasih karunia Allah.

4. Sikap Dualistis : Kristus dan kebudayaan adalah paradoks

Mengakui kewajiban untuk mentaati Kristus dan mengembangkan kebudayaan. Manusia telah berdosa kepada Allah, karena itu semua segi kebudayaan rusak dan buruk adanya. Karenanya manusia hanya dapat diampuni melalui karya Yesus. Dalam pandangan ini, manusia harus menempatkan dirinya sekaligus sebagai warga kerajaan dunia dan kerajaan Allah. Orang Kristen harus mentaati tuntutan Allah dan tuntutan masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, manusia mentaati hukum masyarakat sebaliknya dalam hidup ibadah, manusia harus mentaati hukum Allah.

5. Sikap Pembaharuan : Kristus membaharui kebudayaan

Kristus adalah Penebus yang memperbaharui kehidupan manusia dan masyarakat. Dosa manusia telah berakar dalam semua segi kehidupan manusia, setiap bagian kebudayaan telah menyimpang dari kehendak Allah dan patut dihakimi oleh Allah. Namun pengampunan Kristus bersifat sempurna dalam kehidupan manusia yang beriman kepadaNya. Allah adalah pencipta dan penebus, maka manusia yang telah dibaharui mempunya tanggung jawab untuk mengembangkan kebaikan dan kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat. Allah senantiasa hadir dalam dunia ciptaanNya, Ia hadir dan bekerja bukan hanya pada masa yang akan
datang. Ia bekerja untuk memperbaharui kehidupan masyarakat melalui kehidupan orang Kristen yang sudah dijadikan manusia baru. Karena itulah gereja harus hidup di dalam dunia dan membaharui dunia. (Yoh 17:15-19; 20:21; Mat 6:10). ***Sumber : "Christ and Culture" oleh H Ricahrd Niebuhr***

PANGGILAN ORANG KRISTEN TERHADAP KEBUDAYAAN
Fil 2:5
Firman Tuhan mempunyai otoritas mutlak dalam semua aspek kehidupan manusia yang meliputi kehidupan spiritual maupun kehidupan praktis sehari-hari

Mat 16:24
Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia haruslah menyangkal dirinya, memikul salibNya setiap hari dan mengikut Yesus

1. Orang Kristen Menyangkali Diri terhadap Kebudayaan yang Melawan
Firman Allah

* Menilai kembali kebudayaan dalam terang Firman Allah dan membaharuinya
* Melayani mereka dalam kebudayaan yang berbeda tanpa memaksa mereka
untuk mengikuti kebudayaan si pelayan Injil sekalipun untuk itu kita harus meninggalkan kenyamanan, kemapanan, dan kesejahteraan hati kita
( I Kor 8:20-23).
* Melihat secara hati-hati dan memisahkan pengajaran dalam doktrin Kristen antara kebenaran yang bersifat supra kultural dan pakaian kebudayaan dalam Injil maupun pelayan Injil.
* Berusaha menemukan keharmonisan di antara prinsip kebenaran berita Injil dan kebudayaan kontekstual, tanpa mengabaikan sedikitpun kebenaran mutlak yang diwahyukan Allah.

2. Orang Kristen Memikul Salibnya terhadap Kebudayaan yang Melawan Kristus

* Tetap setia terhadap kebenaran mutlak yang dinyatakan dalam Alkitab sekalipun harus dibayar dengan pertentangan dan kesulitan
* Bersedia melayani dengan menghadapi tantangan dari dua kelompok manusia yang mengandalkan kebudayaan dalam hidup di dunia ini:
- kelompok agama dalam menjalani hidup di dunia ini berusaha untuk mendapatkan keselamatan dan pengampunan Allah melalui kehidupan keagamaan, amal, intelektual, dan kesalehan mereka.
- kelompok duniawi yang cenderung memuaskan keinginan diri tanpa mempedulikan kebenaran Allah. Mewujudkan hidup yang mengejar kepuasan dan kenikmatan jasmaniah.
* Memberitakan Injil Kristus yang menyatakan kesia-siaan hidup keagamaan, amal, dan kesalehan manusia. Menyatakan hukuman Allah atas kehidupan manusia yang berdosa dan menolak pengampunan ALlah dalam
Yesus Kristus. Memperkenalkan identitas manusia baru dalam karya penebusan Yesus Kristus.

3, Orang Kristen Mengikut Tuhan Yesus di Tengah Arus Kebudayaan

* Meneladani kehidupan Kristus semasa kehadiranNya secara jasmaniah di dalam dunia. Menyatakan kehidupan baru yang memuliakan Allah sehingga dunia akan mengenal kita sebagai pengikut Kristus
* Membaharui kehidupan masyarakat dan kebudayaan melalui profesi kita dan karunia yang Allah percayakan kepada kita, dengan berprinsip pada Fil 2:5.
* Membaharui kebudayaan yang memisahkan dan menjauhkan manusia dari sesamanya.
* Membaharui kebudayaan yang memperlakukan manusia secara tidak manusiawi.
* Membaharui kebudayaan yang bersifat materialistis dan merendahkan martabat manusia.
* Membaharui kebudayaan yang berpusat pada kenikmatan hawa nafsu diri dan bersifat egosentris.


*) Yali Poetra



(We Are Yali Indigenous People)

KUASA INJIL YANG MERUBAH MASYARAKAT YALI


 Bahan Refleksi Untuk Masyarakat Yali Dalam Rangka Menyongsong Yubelium Emas 50th Injil Masuk Di Lembah Suwele - Piliyam.

*) James S Yohame

Rasul Paulus mempunyai keyakinan yang teguh pada Injil (Roma 1:16a) karena ia adalah penyelesaian bagi dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia. Paulus berani membuat deklarasi ini kepada umat Kristian di Roma. Roma pada masa itu merupakan kuasa terbesar di dunia samalah dengan Amerika Serikat yang mempunyai status kuasa-kuasa terbesar pada masa ini. Keinginan Paulus mendorongnya untuk pergi dan memberitakan Injil kepada warga Roma. Rasul Paulus mempunyai keyakinan bahwa kuasa Injil itu melebihi dari kuasa besar Roma. Oleh itu, beliau tidak takut dan ingin sekali pergi ke Roma. Refleksi saya ialah adakah umat Kristian pada hari ini mempunyai keinginan untuk memberitakan Injil ke tempat-tempat yang sukar untuk dijangkau?.

Pada masa itu, Roma bukan sahaja kuasa besar, tetapi jenayah dan kekejaman menular di kota tersebut. Keruntuhan akhlak dan moral seakan-akan sama dengan kota-kota Sodom dan Gomorrah. Kekejaman Maharaja Roma itu menjadi takutan dan sebutan oleh ramai orang. Inilah kota yang benar-benar Paulus ingin pergi untuk memberitakan Injil kerana beliau percaya Injil dapatmengembalikan keadilan dan moral di kota tersebut.

Kenapakah Paulus mempunyai keyakinan yang sungguh bahawa Injil dapat membuat perbezaan pada kota itu? Roma 1:16b mengatakan Paulus percaya Injil adalah
kuasa Allah yang boleh menyelamatkan orang-orang yang percaya pada Yesus. Kuasa Injil Kristus mampu membuat perubahan dalam hati kita. Tiada kuasa yang lain yang dapat melebihi kuasa Injil. Dengan kuasa Injil inilah Tuhan menggunakannya untuk mengubah hati manusia. Paulus dalam pelayanannya mengatakan, "Senjata yang kami gunakan dalam perjuangan, bukannya senjata dunia ini, melainkan senjata yang diberikan oleh Allah. Dengan senjata itu kami boleh menghancurkan pertahanan musuh; kami menghapuskan perdebatan" (2 Korintus 10:4)

Tuhan menunjukkan kuasanya dalam Injil dalam perubahan hidup Paulus sendiri. Paulus sentiasa ingat bahawa pada masa lalu dia merupakan guru agama yang menganggap diri sendiri yang benar dan seorang penindas. Kita mungkin tidak percaya bahawa Paulus akan berubah atau sedar akan kesilapan yang beliau lakukan. Paulus pernah mengimbas kehidupan beliau sebelum menerima Yesus. Apabila Yesus menunjukkan dirinya pada Paulus, beliau jatuh di atas tanah, ketakutan dan berasa hairan. Sejak hari itu, kehidupan Paulus bertukar. Beliau bukan lagi mencabar kehebatan Injil malah menjadi Juara untuk Injil. Jelasnya dengan Injil, Paulus telah "
menimbulkan kekacauan di serata tempat" (Kisah Para Rasul 17:60) . Injil mempunyai kuasa untuk menimbulkan "kekacauan" di dunia ini. Kekacauan ini adalah membuat perbezaan daripada yang tidak baik ke arah kebaikkan.

Paulus sedar bahawa kuasa yang mengubah kehidupannya itu dapat juga mengubah kehidupan mereka yang percaya mahupun orang Yahudi atau sebaliknya, yang berpendidikan atau sebaliknya, besar mahupun kecil. Kedegilan orang Yahudi dan kesombongan orang Yunani dapat dipecahkan dengan pedang tajam Injil. Dengan senjata inilah Paulus dengan beraninya pergi ke Roma. Paulus sedar Roma berada dalam pengaruh kuasa kejahatan. Roma berada dalam cengkaman si Iblis yang penuh dengan keangkuhan dan gejala maksiat. Akan tetapi kuasa Iblis tidak dapat melawan dengan kuasa Injil. Paulus sedar bahawa Tuhan boleh mengubah hati jahil manusia bila Injil diberitakan. Paulus tahu Tuhan boleh menyelamatkan setiap pendosa, membawa mereka dari hidup kegelapan kepada cahaya dan menyelamat mereka dari cengkaman kuasa Iblis. Paulus yakin melalui Injil, tiada perkara yang sukar atau mustahil bagi Tuhan.

Wahai sidang pembaca, adakah kita yakin dengan kuasa Injil? Adakah ayat-ayat Injil telah menyakinkan saudara dalam kuasa Ruh Kudus? Adakah Injil telah pecahkan hati kita yang keras itu? Injil mempunyai kuasa untuk menyelamat dalam Yesus Kristus! Walaupun hati kita penuh dengan dosa seperti kejahilan, kegelapan dan kekejaman, Injil dapat membersihkan hati kita dari semua dosa. Walaupun dosa mengeraskan hati seseorang, Tuhan sahajalah (melalui kuasa Injil) yang dapat mengubah hati seseorang itu. Tuhan pernah berjanji, "
Aku akan memberi kamu hati dan fikiran yang baru. Aku akan menggantikan hati kamu yang keras dengan hati yang taat. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke dalam hati kamu agar kamu menurut hukum-Ku dan melaksanakan semua perintah yang telah Kuberikan kepada kamu. " (Yehezikel 36:26-27). Inilah janji Tuhan untuk kita yang percaya dengan apa yang Injil boleh lakukan untuk kita. Bolehkah kita benarkan cahaya Injil menyinar dalam kegelapan hati kita? ***


*) Penulis adalah Mahasiswa Pada Salah satu Institut Di Jakarta 

 
@ Web Master Designer by Jama!ca