atau

“PENGALAMAN BERAGAMA ORANG BALIEM”

*) Oleh: Eddyson S
Perbandingan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Baliem dengan nilai-nilai yang ditawarkan oleh agama Kristen merupakan hal yang agak sulit. Kesulitan terletak pada kedua bela pihak. Dari bagian terdahulu ternyata, betapa tidak jelas dan betapa tidak dapat dijelaskannya seluruh kebudayaan masyarakat Baliem dari sudut pandang orang luar. Sekaligus juga ternyata, bahwa sekarang setelah masa modern memasuki daerah Baliem pada satu pihak masyarakat Baliem sangat lancer melepaskan unsur-unsur hakikat pola kebudayaannya (perang, kultus para leluhur melalui benda-benda sakral). Sementara pada pihak lain dengan rasa puas diri yang penuh dia melanjutkan kehidupannya atau mengubahnya dengan konteks lingkungan keberadaan.
Pada pihak agama Kristen juga terdapat kesulitan. Agama Kristen, yang memasuki daerah lembah Baliem sekitar tahun 1960, dalam banyak hal dalam pemberian bentuk merupakan suatu agama Kristen yang lain dari pada yang diajarkan dan dikebangkan dengan bantuan dari misionaris Barat dan daerah-daerah lain di Papua.
Sangat konkret hal ini berarti, mengingat bahwa daerah Baliem diantar kedalam zaman baru terutama bukan melalui sekolah-sekolah, melainkan melalui usaha-usaha pemerintahan colonial Belanda dan propaganda missioner pada waktu itu. Maka perkembangan iman dan penghayatan kehidupan gerejani, menempu dengan jalan yang lain. Beberapa contoh baik dikekmukakan di sini guna menjelaskan kesulitan kepada agama Kristen itu.   Telah timbul satu pengertian wewenang yang sangat lain, yang dapat dirumuskan secara singkat sebagai berikut: suatu wewenang gereja yang bersifat “hirarkis” diganti dengan suatu wewenang kelompok atau tim yang diambil dari jemaat beriman setempat. Suara umat gereja dengan sendirinya lebih didengarkan dan hal itu member kepada pewartaan suatu sikap lain terhadap cara hidup asli dan “religi” asli.  
Kendati adanya kesulitan-kesulitan pada kedua belah pehak ini, dan dalam hal ini mencoba untuk mengatakan seauatu tentang perbandingan kedua tata nilai itu, maka perlu untuk harus menunjukkan hal berikut ini. Sudah sangatlah jelas bahwa masyarakat suku Baliem sebagai manusia yang secara spontan merasa adanya jalinan yang terbangun secara social, dari sejak nenek moyang dahulu (perkampungannya, kebun-kebunnya, pesta-pestanya, adat-istiadatnya), sebagai manusia religious, secara spontan (berdoa memohon berkat, dia mengakui ketaatannya terhadap suatu pola kebudayaan atau lebih baik dia mengakui dan menjalankan ketatannya secara turun-temurun kepada “WALHOWAK”, kemudian mengakui kesalahan dan merayakan kepercayaannya dalam banyak upacara) dengan sendirinya terbuka bagi nilai-nilai Kristen yang senada. Obyeksi besar, yaitu kewajiban untuk membalas dendam bagi orang-orang yang terbunuh, sudah terbunuh karena “pasifikasi”[1] lembah itu (lembah Baliem) sekalipun hal ini menciptakan kebutuhan dan membangun suatu tingkah laku yang bisa diterima terhadap orang-orang yang sudah meninggal. Dorongan atau keinginannya hedak merebut hak di tangan sendiri dalam setiap perjalanan pembalasan hilang dengan begitu saja, karena pemerintahan sipil mulai memberlakukan kekuasaan kehakiman yang sesuai. Seluruh permainan sekita seksualitas (poligami dan pembatasan jumlah anak) dipelajari kembali dalam seluruh pandangan modern. Masalah-masalah yang timbul menuntut jawaban-jawaban baru. Jawaban-jawaban Kristen seringkali ada korelasi dan dapat menyentuh nilai dasar masyarakat Baliem dan masyarakat pun diberikan kesempatan secara terbuka untuk hal itu. Dengan demikian, gambaran gereja yang berubah mempunyai “pedagogi”[2] tersendiri pula.
Dalam hal ini, untuk memahami secara lengkap atau mendalam tentang hubungan iman Kristen dengan benda-benda sacral dan tradisional masyarakat Baliem, yaitu (Hareken, Tugi dan  Kaneke). Yang kadang, mengandung arti begitu mendalam untuk menjalankan dan memahami nilai dasar religiusitas masyarakat Baliem.
Menurut masyarakat Baliem, apabila dikatakan bahwa “Hareken, Tugi dan  Kaneke” menghadirkan bagi menusia sekarang para leluhur atau orang-orang yang belum lama meninggal, yang telah mengorbankan diri mereka bagi masyarakat, maka rasanya agak mirip untuk memperbandingkan kehadiran/konsep ini dengan kehadiran Kristus sesungguhnya dalam rupa roti dan anggur. Tetapi ada sedikit perbedaan. Sekalipun batu-batu sacral itu memakai nama-nama pribadi tertentu, mereka tidak dipandang menghubungkan generasi sekarang dengan pribadi tertentu itu. Benda-benda sacaral itu bermaksud menghubungkan manusia dengan dunia para leluhur pada umumnya. Benda-benda sacral itu berfungsi sebagai pintu. Roti dan anggur menghubungkan manusia dengan pribadi Yesus Kristus, yang sendiri merupakan pintu menuju dunia tubuhnya yang mistik. Benda-benda sacral itu bisa disamakan dengan salib atau poster di dalam gereja. Arca Kristus memang bukan Kristus sendiri, melainkan membangkitkan pemikiran tentang korban Yesus demi keselasmatan manusia dan dengan demikian memanggil manusia untuk mengikuti teladannya. Benda-benda sacral itu lebih banyak mengingatkan manusia akan “medali”, “skapulir”, dan gambar-gambar kudus, yang membuat perasaan Kristen tetap hidup. Semuanya ini selalu disertai dengan doa, seperti juga pemujaan kepada “Hareken, Tugi dan  Kaneke” diliputi dengan rumusan-rumusan suci. Menurut masyarakat suku Baliem, mereka merasa bangga karena telah memiliki benda-benda sacral yang dapat menghubungkan mereka (masyarakat) dengan “WALHOWAK” yang disembah.[3]  Maka, dapatlah terbukti bahwa WALHOWAK menjadi satu, penjunan bagi masyarakat suku Baliem saat ini. Bersamaan dengan itu isyu pemanasan global yang menjadi wacana umum di Indonesia. Menjadi semacam ramuan untuk mengembangkan konsep Tuhan yang di tawarkan oleh masyarakat suku Baliem, konsep agama kosmic semacam ini sangat relefan dan realistis.
Wassalam.
*) Penulis adalah Masyarakat Kurima di Pegunungan Tengah Papua, dan saat ini berdomisili di Kota Jayapura Papua Barat.
[1] Pasifikasi adalah “Pengamanan atau suatu kegiatan yang dilakukan untuk pengamanan wilayah dalam komunitasnya”. Ungkapan ini disarikan dari tulisan Benny Giay tentang “Masyarakat Amungme (Irian Jaya), Moderniasasi dan Agama Resmi: sebuah Model Pertemuan”, Stepanus Djuweng, Kisah Dari Kampung Halaman: Masyarakat Suku, Agama Resmi dan Pembangunan, (Yogyakarta: Dian/Interfidei & Pustaka Pelajar, 1996), 38,.
[2]Pedagogi adalah “ilmu pendidikan atau ilmu pengajaran”. Pengertian ini disarikan dari konsep P Freire tentang pembebasan kesadaran atau dialogika dan untuk memancing mereka (mak: kaum tertindas) untuk berdialog, dan membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataannya, mendorong mereka untuk menamai apa yang mereka lihat dan dengar dan dengan demikan dapat mengubah dunia. Korelasinya dengan gambaran gereja adalah, supaya menemukan format yang kontekstual dengan masyarakat suku Baliem di Kurima. Paolo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2000), xxi,.
[3] Sumber Wawancara dengan Bapak  Harun Hugulama Sekenyap,  (Kepala Desa HIHUNDES distrik Kurima),  tanggal 27 Februari 2008,.

Sumber Foto : https://papuaintellectualmovement.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

 
@ Web Master Designer by Jama!ca